jeudi 16 février 2012

TATANAN DUNIA BARU





MANUSIA, konon muncul di bumi paling belakang, setelah bebatuan, tumbuh-tumbuhan, dan binatang. Berstatus sebagai ciptaan Tuhan yang paling sempurna, justru makhluk yang berkapasitas otak paling besar ini merusak, menghancurkan bahkan membinasakan bukan saja makhluk-makhluk yang hadir duluan, bahkan tega membunuh sesamanya. Perbuatan manusia tersebutlah yang melahirkan ungkapan homo homini lupus atau perang semua melawan semua.


Semasih manusia hidup berburu dan mengembara untuk mengumpulkan makanan serta malam hari berteduh di gua-gua, dunia aman dan lestari. Mereka malah takut pada lingkungan, khususnya benda-benda besar dan makhluk lain yang dianggap memiliki kekuatan supernatural. Untuk keselamatan dan perlindungan, mereka justru memuja dan menyembah semua hal yang ditakuti. Inilah fase awal manusia mengenal sistem kepercayaan, sekaligus jadi embrio gagasan agama-agama di dunia. Setelah berhenti nomaden dan hidup dengan bercocok tanam, agama pun lahir. Buat memberi logika atas apa yang mereka yakini, muncullah filsafat. Sampai fase ini, dunia masih tenang dan damai. Andaipun ada perkelahian atau pertempuran, korban jiwa sebatas pedang, tombak dan panah bisa menjangkau sasaran alias tidak banyak, tutur Rubag.
Bisa kubayangkan, perang di zaman yang senjatanya cuma pedang, tombak dan panah, paling-paling yang jadi korbannya hanya mereka yang terlibat di medan perang. Dari sejarah dunia yang kubaca selintas, masih kuingat nama Hannibal Barca yang memimpin serdadu Kartaginia melawan pasukan Romawi dalam Perang Punisia yang berlangsung sampai tiga seri. Perang berkhir saat ibukota Kartaginia yakni Kartago diluluhlantakkan serdadu Romawi pada tahun 183 Sebelum Masehi. Begitu pula nama Zengis Khan dari Kekaisaran Mongol di abad ke-13, pemimpin dari kumpulan suku-suku nomaden di pegunungan Mongolia, Asia Timur. Namanya pernah jadi momok bangsa-bangsa Eropa dan Asia, termasuk Indonesia. Untung saja cucu Zengis, yakni Kubilai Khan, tidak berhasil menjajah Indonesia, karena Raden Wijaya pendiri Kerajaan Majapahit menyiasati dan mampu mengusir ribuan serdadunya yang telah menjejakkan kaki di tanah Jawa, komentar Kudil.


Namun negeri Hannibal yang dulu dihancurkan pasukan Romawi, baru-baru ini juga nyaris bubar. Sebab, presidennya Zine El Abidine Ben Ali justru melarikan diri ke luar negeri karena diusir rakyatnya. Kartago yang kau sebut sebagai ibukota Kartaginia terletak di Tunisia dan negeri tersebut digoncang demonstrasi besar-besaran sejak awal Januari lalu. Setelah dihancurkan Romawi, nama besar Hannibal menguap bahkan bangsanya sendiri pun melupakannya. Beda dengan Zengis Khan ! Meskipun kekaisarannya bubar setelah ditundukkan Dinasti Qing dari Cina, namun bangsa dan negaranya yang kini berbentuk republik bangga atas sepak terjangnya. Patung raksasa berwarna keemasan Zengis Khan berbusana panglima perang yang mengendarai kuda didirikan di sebuah bukit dekat ibukota Mongolia, Ulan Bator. Memang, ada yang bangga mengenang sejarah karena konon bisa meningkatkan patriotisme dan nasionalisme. Namun ada pula yang malu karena sejarahnya berbau darah, sehingga berusaha melupakannya, ujar Jengki.


Kedua tokoh sejarah yang kalian tuturkan adalah maniak pemburu kekuasaan. Demi ambisi dan egoisme pribadinya, mereka tak segan-segan mengorbankan ribuan bahkan jutaan nyawa, baik di pihak sendiri maupun musuh. Rupanya, setelah hidup menetap dan berkumpul jadi sebuah masyarakat, egoisme dan ambisi manusia yang tadinya tunduk terhadap keperkasaan alam, jadi tumbuh. Will to power manusia, seperti kata Nietzsche, bertambah besar saat berhasil menggertak banyak orang jadi pengikut. Padahal kalau sendiri, menurut Hobbes, dia adalah mahluk pemurung, penakut dan hina karena sadar umurnya singkat dan fisiknya pun lebih lemah dari beberapa makhluk lain. Jadi, hasrat untuk berkuasa sebenarnya bukan barang baru bagi manusia, namun keinginan tersebut tambah menggebu ketika sains dan teknologi berkembang. Orang boleh mendeklarasikan bahwa renaisans atau enlightentment atau aufklarung sebagai zaman pencerahan, tapi sejak berbagai jenis mesin pembunuh diciptakan dengan dalih untuk pertahanan, kian banyak dan semakin gampang manusia membunuh, argumen Lonjong.


Tak salah kalau manusia di samping menyandang berbagai predikat, juga disebut zoon politikon atau hewan berpolitik ya ? Kalau politik sering didefinisikan sebagai seni tentang kekuasaan, nyatanya dalam praktek cenderung berarti cara merebut kekuasaan. Setelah merebut secara damai dan sopan, bahkan tidak jarang dengan licik dan vulgar, kekuasaan lalu dipertahankan dan diperbesar dengan berbagai cara. Hegemoni lewat bujukan atau intimidasi terselubung merupakan rabuk penyubur buat memelihara kekuasaan. Sebab sejak zaman dulu terlebih-lebih sekarang, kekuasaan dipandang lebih hebat dari lampu Aladin. Bila digosok langsung mengeluarkan harta benda yang diinginkan, tanpa melalui jin lagi. Karenanya, banyak penguasa berniat mewariskan kekuasaannya pada istri, anak dan cucu lewat politik dinasti. Nah, untuk itulah mereka terus menggunakan tehnik pencitraan dengan maksud memperbanyak pengikut dan centeng-centeng kekuasaan, sahut Gading.


Wah pantas, begitu ya ceritanya ? Aku jadi teringat peristiwa Mei 1998, saat menyaksikan tayangan sebuah TV Swasta yang menampilkan ribuan demonstran di jalan-jalan dan lapangan Tahrir, Kairo, Mesir. Kulihat banyak tubuh diseret di jalan, kayaknya sudah tidak bernyawa lagi. Juga pemandangan saling lempar dan baku pukul sesama masyarakat berpakaian sipil. Pun orang-orang mengerang karena terluka di sekujur tubuh digeletakkan di bangsal-bangsal rumah sakit, karena jumlah petugas medis kalah banyak dari jumlah korban. Dari narrator, kudengar, bahwa sebelumnya para demonstran anti Presiden Hosni Mubarak hanya berhadapan dengan polisi, namun hari itu mereka diserang kelompok orang berpakaian sipil yang diduga pro Mubarak. Pihak militer yang diharapkan turun untuk menengahi bentrokan, ternyata berpangku tangan. Komentator berpendapat, bila kerusuhan anarkhis yang saat itu hanya terjadi di sekitar Kairo dibiarkan, akan berkembang menjadi perang sipil mengerikan ke seluruh wilayah Mesir, ujar Bleteng.


Politik pembiaran agaknya sedang diterapkan di beberapa bagian dunia, terutama di negara-negara sedang berkembang. Syukur di Tunisia, Ben Ali yang sudah berkuasa 23 tahun, lebih menyayangkan nasib rakyatnya daripada kekuasaannya, lalu legowo melarikan diri ke Jeddah. Nah, kalau Mubarak tetap bersikeras sesuai pidatonya ingin mempertahankan kekuasaannya yang sudah 30 tahun hingga September mendatang, aku khawatir, Mesir akan menjadi seperti Somalia. Negara seperti tanpa pemerintahan dimana anarkhisme dan pembunuhan terjadi setiap saat karena dikuasai para war lord atau panglima perang. Kalau itu terjadi, program rahasia rezim Tatanan Dunia Baru akan cepat terealisasi. Sebab menurut Pat Robertson, penganut tatanan dunia baru yang ekstrem menghendaki agar kedaulatan nasional negara-negara bangsa harus dihilangkan. Sebab semua hal yang menyangkut urusan manusia harus di bawah kendali satu atap, yakni pemerintahan sedunia. Agenda yang paling mengerikan, tulis Robertson, program kematian dua atau tiga milyar penduduk di dunia ketiga. Merasakan kondisi politik yang kian memanas sekarang, aku jadi bergidik, ihhh, keluh Lambot. 

Oleh Aridus diterbitkan di Bali Post 2011


Aucun commentaire:

Enregistrer un commentaire